Friday, August 8, 2014

Tentang Menikah

Halo setelah sekian lama nggak pernah posting blog lagi, akhirnya saya melakukan comeback juga.
Postingan kali ini dilatarbelakangi karna saya merasa tertekan degan kata menikah.
Udah lagu lawas lah ya kalo saat lebaran, kumpul keluarga, orang seperti saya ini selalu jadi bahan bully-an.
Yang saya maksud seperti saya itu adalah berjenis kelamin perempuan, berusia pertengahan 20, sudah bekerja dan yang paling jadi fokus adalah masih lajang/single/jomblo.


Dan yang saya maksud dengan bahan bully-an adalah menjadi object yang akan selalu ditanya pertanyaan semacam ini : 'Calonnya mana?' 'Kapan kasih undangan?'. Tipikal pertanyaan semacam itu biasanya muncul dari sepupu atau kerabat yang seumuran yang sudah melepas status lajangnya. Kalo saya sih biasanya saya jawab jujur aja dengan gaya yang super cool, 'calonnya masih dititipin di tangan Tuhan' atau 'yaaah secepatnya kok kirim undangan, tungguin aja'.

Kalau kerabat yang lebih tua, misalnya Om/Tante/Pak Dhe/Bu Dhe biasanya akan mengungkapkan dengan cara yang lebih bijak dan dewasa, contohnya : 'Jangan lama-lama ditunda-tunda nikahnya, anak perempuan nggak baik nikah telat' dan  kalau diterusin lagi bisa nasehat dan petuah leluhur keluar semua. Dan yang ntah saya heran kenapa saat mereka ngomong gitu selalu dengan tatapan yang paling cocok di gambarkan dengan kata ‘khawatir’. Hey.. apa salahnya sih berkelamin perempuan, berusia 25 th, masih single, dan menikmati hidup. Tatapan mereka itu seolah-olah ada yang salah dengan hidup saya.
Nilai-nilai sosial di lingkungan saya memberikan tekanan dan tuntutan  yang lebih kepada perempuan untuk cepat menikah. Nilai-nilai sosial itu didukung dengan tuntunan agama membuat seolah-olah menikah adalah sebuah kewajiban, yang justru membuat saya jadi berfikir sebenarnya menikah itu kewajiban atau hak?

Kalau menurut saya sih menikah itu seharusnya hak, seseorang boleh menikah, boleh juga tidak. Jangan salah paham, saya mau dan sangat ingin menikah. Tapi saya tetap merasa terganggu dengan pandangan orang-orang yang membuat seolah-olah menikah adalah kewajiban. Seharusnya setiap orang punya hak untuk berbeda tanpa dianggap aneh kan, hanya karna pandangan sosial mengatakan bahwa menikah adalah kewajiban dan agama (semua agama nampaknya) mendukung dengan mengatakan bahwa menikah adalah tindakan yang baik, bukan berarti orang yang tidak menikah itu tidak baik dan aneh kan.

Tetapi yang membuat saya tertekan tentang menikah bukan karna hal-hal diatas. Saya sih nggak peduli yaa saudara dan kerabat saya mau bilang apa, mau di bully seperti apa juga saya masih bisa santai menanggapinya. Dan saya juga tidak peduli dengan apa kata khalayak umum tentang saya. Prinsip saya sih, orang bebas mau komentar apa tentang saya, dan saya pun bebas untuk tidak mempedulikannya.

Yang membuat saya tertekan untuk menikah adalah karna tiba-tiba tuntutan untuk menikah itu muncul dari mamah papah. Saya bisa saja tidak peduli pada apa kata orang, karna saya tau persis mau berusaha seperti apapun juga saya nggak akan bisa memuaskan tuntutan semua orang. Tapi saat tuntutan itu muncul dari mamah papah saya, saya jadi berfikir mungkin memang sudah saatnya memikirkan untuk menikah dengan serius.
Sebandel dan secuek apapun saya, saya tetap seorang anak yang ingin membahagiakan orang tua saya.
Tapi yang mamah papah saya nggak tau adalah sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengan laki-laki yang bisa bikin saya ingin dan mau menikah.

3 comments: