Halo setelah sekian lama nggak pernah posting blog lagi, akhirnya
saya melakukan comeback juga.
Postingan kali ini dilatarbelakangi karna
saya merasa tertekan degan kata menikah.
Udah lagu lawas lah ya kalo saat lebaran,
kumpul keluarga, orang seperti saya ini selalu jadi bahan bully-an.
Yang saya maksud seperti saya itu adalah berjenis kelamin
perempuan, berusia pertengahan 20, sudah bekerja dan yang paling jadi fokus
adalah masih lajang/single/jomblo.
Dan yang saya maksud dengan bahan bully-an adalah menjadi object
yang akan selalu ditanya pertanyaan semacam ini : 'Calonnya mana?' 'Kapan kasih
undangan?'. Tipikal pertanyaan semacam itu biasanya muncul dari sepupu atau
kerabat yang seumuran yang sudah melepas status lajangnya. Kalo saya sih
biasanya saya jawab jujur aja dengan gaya yang super cool, 'calonnya masih
dititipin di tangan Tuhan' atau 'yaaah secepatnya kok kirim undangan, tungguin
aja'.
Kalau kerabat yang lebih tua, misalnya Om/Tante/Pak Dhe/Bu Dhe
biasanya akan mengungkapkan dengan cara yang lebih bijak dan dewasa, contohnya
: 'Jangan lama-lama ditunda-tunda nikahnya, anak perempuan nggak baik nikah
telat' dan kalau diterusin lagi bisa nasehat
dan petuah leluhur keluar semua. Dan yang ntah saya heran kenapa saat mereka
ngomong gitu selalu dengan tatapan yang paling cocok di gambarkan dengan kata ‘khawatir’.
Hey.. apa salahnya sih berkelamin perempuan, berusia 25 th, masih single, dan
menikmati hidup. Tatapan mereka itu seolah-olah ada yang salah dengan hidup
saya.
Nilai-nilai sosial di lingkungan saya memberikan tekanan dan
tuntutan yang lebih kepada perempuan
untuk cepat menikah. Nilai-nilai sosial itu didukung dengan tuntunan agama
membuat seolah-olah menikah adalah sebuah kewajiban, yang justru membuat saya
jadi berfikir sebenarnya menikah itu kewajiban atau hak?
Kalau menurut saya sih menikah itu seharusnya hak, seseorang boleh
menikah, boleh juga tidak. Jangan salah paham, saya mau dan sangat ingin
menikah. Tapi saya tetap merasa terganggu dengan pandangan orang-orang yang
membuat seolah-olah menikah adalah kewajiban. Seharusnya setiap orang punya hak
untuk berbeda tanpa dianggap aneh kan, hanya karna pandangan sosial mengatakan
bahwa menikah adalah kewajiban dan agama (semua agama nampaknya) mendukung
dengan mengatakan bahwa menikah adalah tindakan yang baik, bukan berarti orang
yang tidak menikah itu tidak baik dan aneh kan.
Tetapi yang membuat saya tertekan tentang menikah bukan karna hal-hal
diatas. Saya sih nggak peduli yaa saudara dan kerabat saya mau bilang apa, mau
di bully seperti apa juga saya masih bisa santai menanggapinya. Dan saya juga
tidak peduli dengan apa kata khalayak umum tentang saya. Prinsip saya sih,
orang bebas mau komentar apa tentang saya, dan saya pun bebas untuk tidak
mempedulikannya.
Yang membuat saya tertekan untuk menikah adalah karna tiba-tiba tuntutan
untuk menikah itu muncul dari mamah papah. Saya bisa saja tidak peduli pada apa
kata orang, karna saya tau persis mau berusaha seperti apapun juga saya nggak
akan bisa memuaskan tuntutan semua orang. Tapi saat tuntutan itu muncul dari
mamah papah saya, saya jadi berfikir mungkin memang sudah saatnya memikirkan
untuk menikah dengan serius.
Sebandel dan secuek apapun saya, saya tetap seorang anak yang
ingin membahagiakan orang tua saya.
Tapi yang mamah papah saya nggak tau adalah sampai saat ini saya
belum pernah bertemu dengan laki-laki yang bisa bikin saya ingin dan mau
menikah.
irachan, gue harus komen apa irachan? :|
ReplyDeletenggak perlu komen apa-apa malichan, just hug me :')
Delete:)
ReplyDelete